Irvan
melihat sebuah tangan dengan sebilah silet cutter mulai merobek perlahan
permukaan sebuah tas kulit mewah milik seorang Ibu. Begitu perlahan hingga si
Ibu sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang berusaha membuka dan
mengambil isi tasnya. Irvan masih terpaku melihat kejadian tersebut, ia masih
belum bisa bereaksi apapun selain bibirnya terbuka dan matanya membulat. Kini
tangan itu mulai merogoh ke dalam tas dengan perlahan, lebih pelan dari gerak
slow motion pada film-film laga. Tapi, secepat kilat tangan itu keluar dengan
sebuah dompet dalam genggaman. Secepat itu pula dompet berpindah ke dalam saku
celana si pencopet. Irvan pun terhenyak dan memberanikan diri berteriak,
“COPEEET!!!”
—
Sinar
matahari menyengat begitu kejamnya siang itu, Irvan lagi-lagi menyeka
keringatnya dengan sapu tangan yang disiapkan oleh Ibunya setiap pagi. Sambil
menunggu bus yang tak kunjung datang, Irvan melihat ke bawah kakinya, ia
melihat bayangannya sendiri berada tepat di sana. Menyadari hal tersebut Irvan
menjadi teringat akan pelajaran IPA kelas 2 SD tentang bayangan.. bayangan
terpendek terjadi saat matahari tepat di atas kepala kita, begitu bunyinya.
Lalu Irvan melirik jam tangannya, pantas saja orang ini jam dua belas kurang
sepuluh.. ucapnya dalam hati.
Ia
mengedarkan pandangan ke sekeliling halte, tak ada pelajar SD di sana selain
dirinya. Kedua teman sekelasnya Ilham dan Dika yang biasanya pulang bersama
dengannya sekarang di antar jemput oleh Ibu mereka masing-masing semenjak
banyak berita penculikan yang ditayangkan di TV TV.
Tak lama
kemudian sebuah bus bertuliskan “Pelita Jaya” berhenti di depan Irvan. Ia pun
segera naik bersama beberapa penumpang lain yang sudah menunggu. Irvan
melongokkan kepalanya, mencari-cari kursi kosong. Tapi nihil, tak ada satu pun
kursi yang menganggur. Akhirnya Irvan harus berdiri bersama dua orang lain.
Suasana bus tiba-tiba ramai saat seorang Ibu bercerita tentang kejadian yang
menimpanya tadi pagi dalam bus yang sama. Beliau kecopetan. Irvan mendengarkan
dengan seksama dan menjadi takut bila hal itu terjadi pada dirinya, apalagi ia
hanya seorang anak kelas 6 SD yang berbadan kecil. Sepanjang perjalanan Irvan
memeluk erat tas sekolahnya. Tas ransel yang biasanya ia pakai di punggung,
siang itu ia kenakan di dada agar tak lepas dari pengawasannya.
Keesokan
harinya, Irvan mogok sarapan karena Ibunya tak mau mengantarkan Irvan ke
sekolah.
“Ipan..
kamu kan tau kalau Ibu masuk pagi, jadi Ibu nggak bisa nganterin kamu. Lagian,
biasanya kan juga berangkat sendiri..” tutur Ibunya.
“Tapi apa
Ibu nggak kawatir? Ilham sama Dika aja sekarang dianterin Mamahnya. Kok Ipan
enggak Bu?”
“Ipan..
kamu kan udah gede sekarang. Ibu percaya kok kamu pasti bisa jaga diri. Udah
ya, Ibu berangkat dulu. jangan lupa kunci pintunya kalau berangkat..” kata Ibu
sambil mengecup kening Irvan. Irvan hanya bisa cemberut dan menggerutu.
Irvan
berangkat masih dengan Pelita Jaya. Tapi pagi ini ia bersyukur mendapatkan
tempat duduk walaupun di kursi paling belakang. Irvan memindahkan ranselnya
dari punggung ke pangkuannya, ia masih teringat pada cerita Ibu-Ibu kemarin
siang.
Bus
berhenti di sebuah perempatan. Penumpang yang duduk di samping Irvan turun dari
bus dan digantikan oleh seorang lelaki berbadan kekar yang baru saja memasuki
bus. Irvan menatap lelaki itu dengan ngeri. Orang itu mengenakan celana jeans
panjang yang sengaja dirobek pada bagian lututnya, kaos oblong putih yang sudah
pudar dan sebuah rompi kulit hitam yang sudah usang.
Irvan
terbatuk-batuk saat menghirup asap rokok yang dihembuskan dari mulut orang itu.
Rasa ngerinya berubah menjadi kesal. Ia mendongakkan kepala dan melihat wajah
lelaki itu. Irvan langsung membelalakkan matanya saat menyadari bahwa orang itu
benar-benar menakutkan bila dilihat dari jarak sedekat itu. Kumisnya yang tebal
hampir menutupi seluruh bibir atasnya, rambut gondrongnya ia kuncir asal-asalan
saja, dan sebuah kaca mata hitam bertengger di atas ubun-ubunnya. Irvan pun tak
berani menatap orang itu lama-lama.
Sekitar
lima menit kemudian lelaki di samping Irvan itu berdiri dan meneriakkan “Kiri!”
pada kondektur. Orang itu turun di depan sebuah pasar yang ramai, selain itu
seorang pemuda berpenampilan rapi juga turun di sana. Irvan memperhatikan
pemuda itu, betapa kontrasnya penampilannya dibandingkan dengan Bapak berbadan
kekar yang tadi duduk di sampingnya.
Tak lama
kemudian Pak kondektur meneriakkan nama SD tempat Irvan bersekolah, Irvan pun
beranjak dari tempat duduknya dengan terburu-buru.
Saat jam
istirahat,
“Ipan, kok
kamu nggak di anterin Ibu kamu juga? Ati-ati loh sekarang banyak copet di dalem
bis..” ucap Dika.
“Iya Pan,
selain copet juga ada penculik loh.. kamu nggak takut?” timpal Ilham.
“Ibuku kan
kerja, jadi nggak bisa nganter..” hanya itu yang diucapkan Irvan, padahal
berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Bayangan sosok bapak yang tadi pagi
duduk di sampingnya melintas, ia merasa ngeri.
Dengan
gelisah Irvan menantikan Pelita Jaya sepulang sekolah hari itu. Irvan ingin
segera tiba di rumah dan merengek pada Ibunya minta untuk di antar-jemput.
“Ini hari
jum’at dan Ibu pasti sudah pulang..” gumamnya pelan.
Lima menit
menunggu terasa bagaikan satu jam, namun lima menit kemudian Pelita Jaya
berhenti di depan Irvan. Dengan segera ia melangkah memasuki bus, terpaksa
siang itu ia harus berdiri lagi.
Irvan
berdesakan dengan beberapa penumpang lain, termasuk salah satunya bapak
berbadan kekar yang tadi pagi duduk di sampingnya, ia berdiri sekitar setengah
meter dari bapak itu, hanya terhalang oleh seorang Ibu-Ibu. Irvan terhenyak
kaget dan segera meraih ranselnya, memindahkan ransel itu ke dadanya. Saat
sedang panik itulah tiba-tiba bus berhenti mendadak, membuat penumpang
terlontar ke depan. Irvan berdiri sempoyongan dan mencoba meraih kursi
terdekat.
Ternyata
ada seseorang yang akan naik bus. Seorang pemuda yang tadi pagi Irvan lihat
turun bersama bapak berbadan kekar. Irvan mengerenyitkan dahi heran, kenapa
bisa kebetulan sekali mereka naik bus yang sama dalam waktu yang sama juga?
Tapi Irvan tak mau ambil pusing.
Kurang
lebih lima menit kemudian, bus berhenti di sebuah perempatan jalan. Bapak
berbadan kekar tadi turun dari bus. Irvan pun merasa lega, ia tidak merasa
ngeri lagi seperti tadi. Namun bersamaan dengan itu, lebih banyak penumpang
memasuki bus sehingga keadaan menjadi semakin sumpek.
Irvan tetap
memeluk erat ranselnya sambil mengawasi penumpang-penumpang yang berdiri di
sampingnya. Ia menarik napas lega karena tidak seorang pun yang mirip dengan
bapak berbadan kekar tadi.
Irvan
sedang melamunkan PR Matematika saat tiba-tiba ia melihat sebuah tangan dengan
sebilah silet cutter mulai merobek perlahan permukaan sebuah tas kulit mewah
milik seorang Ibu. Begitu perlahan hingga si Ibu sama sekali tidak menyadari
bahwa seseorang sedang berusaha membuka dan mengambil isi tasnya. Irvan masih
terpaku melihat kejadian tersebut, ia masih belum bisa bereaksi apapun selain
bibirnya terbuka dan matanya membulat. Kini tangan itu mulai merogoh ke dalam
tas dengan perlahan, lebih pelan dari gerak slow motion pada film-film laga.
Tapi, secepat kilat tangan itu keluar dengan sebuah dompet dalam genggaman.
Secepat itu pula dompet berpindah ke dalam saku celana si pencopet. Irvan pun
terhenyak dan memberanikan diri berteriak,
“COPEEET!!!”
hingga semua penumpang kaget dan menoleh ke arahnya. Dengan cepat Irvan
menunjuk seorang pemuda berpenampilan rapi yang Irvan hapal betul lengan
bajunya. Tangan pemuda itulah yang merobek dan mengambil isi tas milik seorang
Ibu.
“Apa?!
Tidak mungkin Bu, Pak. Anak kecil itu pasti berbohong!” teriak pemuda itu.
“Enggak!
Ipan nggak bohong. Coba aja Ibu cek tas Ibu..” sahut Irvan sambil menatap si
Ibu. Ibu tersebut mengecek tasnya dan menemukan bahwa tas itu sobek di bagian
bawahnya. Para penumpang lain kaget. Lalu Ibu itu mengecek isi tasnya dengan
wajah yang mulai cemas, dan..
“Dompet
saya hilang. Anak ini benar!” kata si Ibu.
“Loh bisa
saja yang mengambil anak itu sendiri! Apa buktinya kalau saya yang mencopet
Ibu?!” kata pemuda copet itu. Namun tatapan semua penumpang sudah menyiratkan
padanya bahwa dialah si copet dan dia pantas dihakimi.
“Coba Abang
keluarin isi saku celana Abang!” tantang Irvan. Bersamaan dengan itu, Pak supir
yang menyadari bahwa terjadi keributan dalam busnya pun menghentikan laju bus.
Pak supir
bersama kondektur mendekat ke kerumunan di tengah bus.
“Ada apa
ini?” tanya pak supir.
“Ada
pencopet Pak! Itu orangnya!” sahut salah seorang penumpang sambil menunjuk si
pemuda. Lalu pak supir mendekati pemuda itu dan bertanya,
“Apa benar
kamu mencopet dalam bus saya?”
“Bener Pak.
Saya tadi lihat sendiri, Abang itu mencopet Ibu ini dan memasukkan dompetnya ke
saku celana Pak.” Sahut Irvan lantang. Lalu dengan sigap pak supir merogoh saku
celana pemuda berpenampilan rapi itu. Dan pak supir mengeluarkan sebuah dompet
wanita yang cukup tebal.
“Itu dompet
saya!” teriak si Ibu.
“Kalau
begitu kamu harus dibawa ke kantor polisi! Kamu sering naik bus ini, jadi
selama ini kamu yang membuat bus kami tidak aman?!” bentak pak kondektur.
“Sudah,
Pak, sudah.. kita selesaikan nanti di kantor polisi.” Tutur pak supir.
“Terimakasih ya, nak.. siapa nama kamu?”
“Ipan,
Pak.”
“Terimakasih
ya nak Ipan. Nanti bapak mohon kamu mau ikut ke kantor polisi sebagai saksi,
Cuma sebentar kok..” ucap pak supir dengan lembut.
“Terimakasih
Ipan, berkat kamu dompet Ibu tidak jadi hilang!” sahut si Ibu dengan gembira.
Para
penumpang lain yang tadinya geram melihat pemuda copet itu menjadi tersenyum
bangga pada Irvan dan bertepuk tangan. Irvan merasa lega.
Namun
tiba-tiba ia teringat pada bapak berbadan kekar yang tadi ia temui. Irvan telah
semena-mena berburuk sangka pada bapak itu. Padahal menurut cerita yang Irvan
dengar dari penumpang lain di perjalanan pulang, bapak itu adalah seorang
penjaga keamanan pasar.
“Mau gimana
lagi? kalau nggak berpenampilan seram, bisa-bisa para oknum nggak akan takut..”
begitu alasan yang dilontarkan seseorang saat membicarakan bapak berbadan kekar
itu.






0 komentar:
Posting Komentar