Senja sore aku sangat menikmati sekali mentari terbenam, seringkali
aku menangis dan mengatakan: “mentari kau terbit dari ufuk timur dan
terbenam pada ufuk barat, kau sendiri namun menyinari, kau sungguh
tegar. aku ingin seperti mu, meski aku tak mempunyai apa-apa namun aku
ingin sekali menjadi sumber kebahagiaan untuk di sekelilingku”.
Aku takut dengan hidup yang terus-menerus seperti ini, disamping rasa
takutku ada kekuatan cinta dari tuhan dan keluargaku sehingga aku
menumbuhi rasa semangat yang terus aku tanam dalam diri ini. aku,
perempuan namun aku harus tegas pada diriku sendiri. aku tidak boleh
memelas, manja dan pasrah dalam hidup, tapi aku harus berusaha…
Seringkali aku menangis: “tuhan, ridhoi aku”
Aku selalu berkata dalam setiap apa yang aku kerjakan.
jika aku melakukan hal yang salah, hatiku akan mencegah, dan aku berfikir. “inilah, jawaban dari doa’a ku agar tuhan meridho’i ku”.
jika aku melakukan hal yang salah, hatiku akan mencegah, dan aku berfikir. “inilah, jawaban dari doa’a ku agar tuhan meridho’i ku”.
Beberapa tahun kemudian…
Aku kini masih seperti dulu sederhana namun tegas, setidaknya kini aku memiliki kebebasan finansial
Aku kini masih seperti dulu sederhana namun tegas, setidaknya kini aku memiliki kebebasan finansial
“dalam sebuah usaha pasti akan jatuh dan naik, jika jatuh bangkit dan
bangkit lagi, jika ada seseorang yang meremehkan biarkan, jika kita
sendiri tetaplah menjadi mentari karena mentari pun sendiri namun ia
bisa menyinari, setiap orang memiliki batasan apalagi jika batasan itu
mengenai ekonomi kita harus bisa mematahkan memang sulit tapi itu PASTI,
jangan takut akan keadaan karena kita sendiri biasa merubah keadaan
kita dan yakin akan ada ridho tuhan serta cinta tuhan”






0 komentar:
Posting Komentar