Kamis, 13 Februari 2014

copettttt

Irvan melihat sebuah tangan dengan sebilah silet cutter mulai merobek perlahan permukaan sebuah tas kulit mewah milik seorang Ibu. Begitu perlahan hingga si Ibu sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang berusaha membuka dan mengambil isi tasnya. Irvan masih terpaku melihat kejadian tersebut, ia masih belum bisa bereaksi apapun selain bibirnya terbuka dan matanya membulat. Kini tangan itu mulai merogoh ke dalam tas dengan perlahan, lebih pelan dari gerak slow motion pada film-film laga. Tapi, secepat kilat tangan itu keluar dengan sebuah dompet dalam genggaman. Secepat itu pula dompet berpindah ke dalam saku celana si pencopet. Irvan pun terhenyak dan memberanikan diri berteriak, “COPEEET!!!”


Sinar matahari menyengat begitu kejamnya siang itu, Irvan lagi-lagi menyeka keringatnya dengan sapu tangan yang disiapkan oleh Ibunya setiap pagi. Sambil menunggu bus yang tak kunjung datang, Irvan melihat ke bawah kakinya, ia melihat bayangannya sendiri berada tepat di sana. Menyadari hal tersebut Irvan menjadi teringat akan pelajaran IPA kelas 2 SD tentang bayangan.. bayangan terpendek terjadi saat matahari tepat di atas kepala kita, begitu bunyinya. Lalu Irvan melirik jam tangannya, pantas saja orang ini jam dua belas kurang sepuluh.. ucapnya dalam hati.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling halte, tak ada pelajar SD di sana selain dirinya. Kedua teman sekelasnya Ilham dan Dika yang biasanya pulang bersama dengannya sekarang di antar jemput oleh Ibu mereka masing-masing semenjak banyak berita penculikan yang ditayangkan di TV TV.

Tak lama kemudian sebuah bus bertuliskan “Pelita Jaya” berhenti di depan Irvan. Ia pun segera naik bersama beberapa penumpang lain yang sudah menunggu. Irvan melongokkan kepalanya, mencari-cari kursi kosong. Tapi nihil, tak ada satu pun kursi yang menganggur. Akhirnya Irvan harus berdiri bersama dua orang lain. Suasana bus tiba-tiba ramai saat seorang Ibu bercerita tentang kejadian yang menimpanya tadi pagi dalam bus yang sama. Beliau kecopetan. Irvan mendengarkan dengan seksama dan menjadi takut bila hal itu terjadi pada dirinya, apalagi ia hanya seorang anak kelas 6 SD yang berbadan kecil. Sepanjang perjalanan Irvan memeluk erat tas sekolahnya. Tas ransel yang biasanya ia pakai di punggung, siang itu ia kenakan di dada agar tak lepas dari pengawasannya.

Keesokan harinya, Irvan mogok sarapan karena Ibunya tak mau mengantarkan Irvan ke sekolah.
“Ipan.. kamu kan tau kalau Ibu masuk pagi, jadi Ibu nggak bisa nganterin kamu. Lagian, biasanya kan juga berangkat sendiri..” tutur Ibunya.
“Tapi apa Ibu nggak kawatir? Ilham sama Dika aja sekarang dianterin Mamahnya. Kok Ipan enggak Bu?”
“Ipan.. kamu kan udah gede sekarang. Ibu percaya kok kamu pasti bisa jaga diri. Udah ya, Ibu berangkat dulu. jangan lupa kunci pintunya kalau berangkat..” kata Ibu sambil mengecup kening Irvan. Irvan hanya bisa cemberut dan menggerutu.

Irvan berangkat masih dengan Pelita Jaya. Tapi pagi ini ia bersyukur mendapatkan tempat duduk walaupun di kursi paling belakang. Irvan memindahkan ranselnya dari punggung ke pangkuannya, ia masih teringat pada cerita Ibu-Ibu kemarin siang.

Bus berhenti di sebuah perempatan. Penumpang yang duduk di samping Irvan turun dari bus dan digantikan oleh seorang lelaki berbadan kekar yang baru saja memasuki bus. Irvan menatap lelaki itu dengan ngeri. Orang itu mengenakan celana jeans panjang yang sengaja dirobek pada bagian lututnya, kaos oblong putih yang sudah pudar dan sebuah rompi kulit hitam yang sudah usang.

Irvan terbatuk-batuk saat menghirup asap rokok yang dihembuskan dari mulut orang itu. Rasa ngerinya berubah menjadi kesal. Ia mendongakkan kepala dan melihat wajah lelaki itu. Irvan langsung membelalakkan matanya saat menyadari bahwa orang itu benar-benar menakutkan bila dilihat dari jarak sedekat itu. Kumisnya yang tebal hampir menutupi seluruh bibir atasnya, rambut gondrongnya ia kuncir asal-asalan saja, dan sebuah kaca mata hitam bertengger di atas ubun-ubunnya. Irvan pun tak berani menatap orang itu lama-lama.

Sekitar lima menit kemudian lelaki di samping Irvan itu berdiri dan meneriakkan “Kiri!” pada kondektur. Orang itu turun di depan sebuah pasar yang ramai, selain itu seorang pemuda berpenampilan rapi juga turun di sana. Irvan memperhatikan pemuda itu, betapa kontrasnya penampilannya dibandingkan dengan Bapak berbadan kekar yang tadi duduk di sampingnya.

Tak lama kemudian Pak kondektur meneriakkan nama SD tempat Irvan bersekolah, Irvan pun beranjak dari tempat duduknya dengan terburu-buru.

Saat jam istirahat,
“Ipan, kok kamu nggak di anterin Ibu kamu juga? Ati-ati loh sekarang banyak copet di dalem bis..” ucap Dika.
“Iya Pan, selain copet juga ada penculik loh.. kamu nggak takut?” timpal Ilham.
“Ibuku kan kerja, jadi nggak bisa nganter..” hanya itu yang diucapkan Irvan, padahal berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Bayangan sosok bapak yang tadi pagi duduk di sampingnya melintas, ia merasa ngeri.

Dengan gelisah Irvan menantikan Pelita Jaya sepulang sekolah hari itu. Irvan ingin segera tiba di rumah dan merengek pada Ibunya minta untuk di antar-jemput.
“Ini hari jum’at dan Ibu pasti sudah pulang..” gumamnya pelan.

Lima menit menunggu terasa bagaikan satu jam, namun lima menit kemudian Pelita Jaya berhenti di depan Irvan. Dengan segera ia melangkah memasuki bus, terpaksa siang itu ia harus berdiri lagi.

Irvan berdesakan dengan beberapa penumpang lain, termasuk salah satunya bapak berbadan kekar yang tadi pagi duduk di sampingnya, ia berdiri sekitar setengah meter dari bapak itu, hanya terhalang oleh seorang Ibu-Ibu. Irvan terhenyak kaget dan segera meraih ranselnya, memindahkan ransel itu ke dadanya. Saat sedang panik itulah tiba-tiba bus berhenti mendadak, membuat penumpang terlontar ke depan. Irvan berdiri sempoyongan dan mencoba meraih kursi terdekat.

Ternyata ada seseorang yang akan naik bus. Seorang pemuda yang tadi pagi Irvan lihat turun bersama bapak berbadan kekar. Irvan mengerenyitkan dahi heran, kenapa bisa kebetulan sekali mereka naik bus yang sama dalam waktu yang sama juga? Tapi Irvan tak mau ambil pusing.

Kurang lebih lima menit kemudian, bus berhenti di sebuah perempatan jalan. Bapak berbadan kekar tadi turun dari bus. Irvan pun merasa lega, ia tidak merasa ngeri lagi seperti tadi. Namun bersamaan dengan itu, lebih banyak penumpang memasuki bus sehingga keadaan menjadi semakin sumpek.

Irvan tetap memeluk erat ranselnya sambil mengawasi penumpang-penumpang yang berdiri di sampingnya. Ia menarik napas lega karena tidak seorang pun yang mirip dengan bapak berbadan kekar tadi.

Irvan sedang melamunkan PR Matematika saat tiba-tiba ia melihat sebuah tangan dengan sebilah silet cutter mulai merobek perlahan permukaan sebuah tas kulit mewah milik seorang Ibu. Begitu perlahan hingga si Ibu sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang berusaha membuka dan mengambil isi tasnya. Irvan masih terpaku melihat kejadian tersebut, ia masih belum bisa bereaksi apapun selain bibirnya terbuka dan matanya membulat. Kini tangan itu mulai merogoh ke dalam tas dengan perlahan, lebih pelan dari gerak slow motion pada film-film laga. Tapi, secepat kilat tangan itu keluar dengan sebuah dompet dalam genggaman. Secepat itu pula dompet berpindah ke dalam saku celana si pencopet. Irvan pun terhenyak dan memberanikan diri berteriak,
“COPEEET!!!” hingga semua penumpang kaget dan menoleh ke arahnya. Dengan cepat Irvan menunjuk seorang pemuda berpenampilan rapi yang Irvan hapal betul lengan bajunya. Tangan pemuda itulah yang merobek dan mengambil isi tas milik seorang Ibu.
“Apa?! Tidak mungkin Bu, Pak. Anak kecil itu pasti berbohong!” teriak pemuda itu.
“Enggak! Ipan nggak bohong. Coba aja Ibu cek tas Ibu..” sahut Irvan sambil menatap si Ibu. Ibu tersebut mengecek tasnya dan menemukan bahwa tas itu sobek di bagian bawahnya. Para penumpang lain kaget. Lalu Ibu itu mengecek isi tasnya dengan wajah yang mulai cemas, dan..
“Dompet saya hilang. Anak ini benar!” kata si Ibu.
“Loh bisa saja yang mengambil anak itu sendiri! Apa buktinya kalau saya yang mencopet Ibu?!” kata pemuda copet itu. Namun tatapan semua penumpang sudah menyiratkan padanya bahwa dialah si copet dan dia pantas dihakimi.
“Coba Abang keluarin isi saku celana Abang!” tantang Irvan. Bersamaan dengan itu, Pak supir yang menyadari bahwa terjadi keributan dalam busnya pun menghentikan laju bus.

Pak supir bersama kondektur mendekat ke kerumunan di tengah bus.
“Ada apa ini?” tanya pak supir.
“Ada pencopet Pak! Itu orangnya!” sahut salah seorang penumpang sambil menunjuk si pemuda. Lalu pak supir mendekati pemuda itu dan bertanya,
“Apa benar kamu mencopet dalam bus saya?”
“Bener Pak. Saya tadi lihat sendiri, Abang itu mencopet Ibu ini dan memasukkan dompetnya ke saku celana Pak.” Sahut Irvan lantang. Lalu dengan sigap pak supir merogoh saku celana pemuda berpenampilan rapi itu. Dan pak supir mengeluarkan sebuah dompet wanita yang cukup tebal.
“Itu dompet saya!” teriak si Ibu.
“Kalau begitu kamu harus dibawa ke kantor polisi! Kamu sering naik bus ini, jadi selama ini kamu yang membuat bus kami tidak aman?!” bentak pak kondektur.
“Sudah, Pak, sudah.. kita selesaikan nanti di kantor polisi.” Tutur pak supir. “Terimakasih ya, nak.. siapa nama kamu?”
“Ipan, Pak.”
“Terimakasih ya nak Ipan. Nanti bapak mohon kamu mau ikut ke kantor polisi sebagai saksi, Cuma sebentar kok..” ucap pak supir dengan lembut.
“Terimakasih Ipan, berkat kamu dompet Ibu tidak jadi hilang!” sahut si Ibu dengan gembira.

Para penumpang lain yang tadinya geram melihat pemuda copet itu menjadi tersenyum bangga pada Irvan dan bertepuk tangan. Irvan merasa lega.
Namun tiba-tiba ia teringat pada bapak berbadan kekar yang tadi ia temui. Irvan telah semena-mena berburuk sangka pada bapak itu. Padahal menurut cerita yang Irvan dengar dari penumpang lain di perjalanan pulang, bapak itu adalah seorang penjaga keamanan pasar.
“Mau gimana lagi? kalau nggak berpenampilan seram, bisa-bisa para oknum nggak akan takut..” begitu alasan yang dilontarkan seseorang saat membicarakan bapak berbadan kekar itu.



Rabu, 12 Februari 2014

Aku Harus Berusaha

Maudi ayunda itulah nama yang diberikan kedua orangtua ku. aku bukanlah anak yang mampu dalam ekonomi. namun aku mampu dalam berusaha, semangatku menggapai cita-cita sering kali dipatahkan oleh ekonomi. namun, aku berusaha menjadi orang yang selalu berusaha dan berusaha untuk mematahkan ekonomi sehingga tidak ada lagi batasan yang akan mematahkan semangat teman-temanku.
Senja sore aku sangat menikmati sekali mentari terbenam, seringkali aku menangis dan mengatakan: “mentari kau terbit dari ufuk timur dan terbenam pada ufuk barat, kau sendiri namun menyinari, kau sungguh tegar. aku ingin seperti mu, meski aku tak mempunyai apa-apa namun aku ingin sekali menjadi sumber kebahagiaan untuk di sekelilingku”.
Aku takut dengan hidup yang terus-menerus seperti ini, disamping rasa takutku ada kekuatan cinta dari tuhan dan keluargaku sehingga aku menumbuhi rasa semangat yang terus aku tanam dalam diri ini. aku, perempuan namun aku harus tegas pada diriku sendiri. aku tidak boleh memelas, manja dan pasrah dalam hidup, tapi aku harus berusaha…
Seringkali aku menangis: “tuhan, ridhoi aku”
Aku selalu berkata dalam setiap apa yang aku kerjakan.
jika aku melakukan hal yang salah, hatiku akan mencegah, dan aku berfikir. “inilah, jawaban dari doa’a ku agar tuhan meridho’i ku”.
Beberapa tahun kemudian…
Aku kini masih seperti dulu sederhana namun tegas, setidaknya kini aku memiliki kebebasan finansial
“dalam sebuah usaha pasti akan jatuh dan naik, jika jatuh bangkit dan bangkit lagi, jika ada seseorang yang meremehkan biarkan, jika kita sendiri tetaplah menjadi mentari karena mentari pun sendiri namun ia bisa menyinari, setiap orang memiliki batasan apalagi jika batasan itu mengenai ekonomi kita harus bisa mematahkan memang sulit tapi itu PASTI, jangan takut akan keadaan karena kita sendiri biasa merubah keadaan kita dan yakin akan ada ridho tuhan serta cinta tuhan”

dongeng tangkuban perahu

pada jaman dahulu,dijawa barat hidup lah seorang putri raja yang bernama dayang sumbi.
ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama sangkuriang. anak tersebut sangat gemar memburu di dalam hutan. setiap berburu, dia selalu di temani oleh se ekor anjing ke sayangan yang bernama tumang. tumang adalah titisan dewa, dan juga bapa kandung sangkuriang, tetapi sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibu nya memang sengaja merahasia kan nya.

pada suatu hari, seperti biasa nya sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. setelah sampai nya di hutan, sangkuriang mulay mencari buruan. dia melihat ada se ekor burung yng sedang bertengger di lahan, lalu tanpa berpikir panjang sangkuriang langsung menembak nya dan tepat mengenai sasaran sangkuriang lalu memerintah tumang untuk mengejar buruan nya tdi,ttapi situmng diam saja dan tdk mau mnqikuti perintah sngkuriang. karena sangat jengkel pda tumang maka sangkuriang lalu mengusir tumang dan tdk diijinkan plang ke rmh brsama nya lagi

ssampai dirmh, sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kpd ibu nya begitu mendengar cerita dri anak nya, dayang sumbi sngat mrah.diambil sendok nasi dan dipkulkan ke kepala nya. karena merasa kecewa dngn prlakuan ibu nya,mka sngkuriang mmutuskan untuk pergi mngembara dan meninggal kan rumah nya.

stalah kejadian itu, dayang sumbi sangat mnyesali perbuatan nya. ia berdoa setiap hari, dan mminta agar suatu hari dpt bertemu dngan anak nya kembali karna kesungguhan dari doa dayang sumbi tersebut,mka dewa memberikan hadiah kecantikan abadi selamnya nya.

setelah bertahun thun lma nya sngkuriang mengembara,akhirnya berniat pulang ke kmpung halaman nya sesampainya disana,dia sngat terkejut sekali,karna kampung halaman nya brubah total.rasa senang sangkuriang tersebut bertambah ketika saat ditngah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita,yang tidak lain adealah dayang sumbi. karna terpesona dngan kecntikkan tersebut,mka sngkuriang melamarnya.akhir nya lamaean sangkuriang diterima oleh dayang sumbi, dan sepakat akan mnikah diwktu dekat.

pda suatu hari  sangkuriamg meminta ijin untuk berburu di hutan kpd calon istri nya alangkah terkejut nya dayang sumbi melihat bekas luka yang mirip dengan bekas luka anak nya dayang sumbi bertambah terkejut, karena ternyata benar bahwa clon suami nya tersebut adalh ank nya sndri.

dayang sumbi sangat bingung sekali untuk mncoba berbicara kepada sangkuriang, supaya sangkuriang mencoba membatal kan prnikahan nya dan hanya di anggap angin lalu saja.

setiap hari dayang sumbi berpikir bagai mana cara membatal kan pernikahan mereka dayang sumbi mengaju kan 2 syaratapabila sangkuriang dapat memenuhi 2syarat tersebut, maka dayang sumbi mau jadikan istri nya tapi sebalik nya,
1. dayang sumbi ingin membendung sungai citarum
2. dayang sumbi ingin meminta sangkuriang untuk membuat sanpan yang besar untuk menybrang sungai.

sebelum pajar menyingsing sangkuriang garus mnyelesai kan tugas trsbut. diam-diam dayang sumbi mengintip hasil kerja dari sangkuriang betapa terkejut nya dia, sangkuriang hampir mnyelesai kan syarat tersebut.

dayang sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutra berwarna merah di sebelum timur kota. ketika melihat warna memerah sangkuriang mengira kalo hari sudah menjelang pagi. sangkuriang langsung menghentikan pekerjaan nya dan akhir nya sangkuriang tidak dapat memenuhi syarat yg di ajukan dayang sumbi.

dengan rasa jengkel dan kecewa, sangkuriang lalu menjebol bendungan yg telah di buat nya sendri.maka terjadi lah banjir dan akhir nya seluruh kota terendam air sangkuriang juga menendang sanpan besar yg telah di buat nya. sanpan itu melayang dan jatuh tertumpuk, lalu menjadi sebuah gunung yg brnma

TANGKUBAN PERAHU

kisah Abu Nawas Membalas Raja

Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titan langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas. Apabila mengganti kerugian. inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.

Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak. Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. la tiba-tiba tertawa riang.

"Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu
Nawas berkata kepada istrinya.

"Untuk apa?" tanya istrinya heran.

"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat. Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata,

"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba."

"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar.

"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya. "Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini."

"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?"

"Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu." Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menotak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di manapun mereka hinggap.

Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.

Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.

Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas. Abu Nawas yang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.

Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.

cara membuat kerupuk dari wortel



                          Alat – Alat :
1.kompor                                
2.katel                                    
3.Pisau                                    
4.wadah /baskom Kecil
5.Spatula
6.Alat Peniris
7.Piring plastik
8.Plastik Es


                         Bahan – Bahan :
1.wortel                 (3 buah)
2.Garam                 (1 bungkus)
3.bawang merah    (Rp.500)
4.bawang putih      (Rp.500)
5.Tepung terigu      (1/4)
6.Tepung tapioka    (1/4)
7.minyak goreng     (1/4)
8.ketumbarar          (Rp.500)

Cara Pembuatan Kerupuk Wortel
1 .   siapkan 3 buah wortel kemudian kilitnya kupas hingga
         Bersih kemudian cuci sampe 2 kali                                                       
2.    potong potong wortel sampai 5 cm selanjutnya wortel  
         di rebus kurang lebih 10 menit (agak lembek)angkat dan tiriskan
3.   siapkan belender masukan wortel ke dalam belender sampe halus
        Kemudia saring wortel tersebut pisaahkan sari dan hampasnya
       (di buang ampasnya).masukan sari wortel kadalam  wadah yang
        Di siapkan
4.   siapakan bawang merah,bawang putih,ketumbar,kemudian ditumbuk
       Hingga halus
5.   campurkan seluruh tumbukan kedalam sari wortel
6.   siapkan wadah kemudian masukan tepung terigu dan tepung tapioka
       Garam dan penyedaprasa  dan sari wortel aduk hingga mengental
       Tambah sedikit  air (bila kurang air)
7.  siapkan plastik es masukan adonan ke dalam plastik hingga berbentuk
       Silinder siapkan alat pengukus masukan adonan yang sedang
       Di  bungkus plastikke dalam pengukus kukus adonan sampai 2 jam
       Angkat dan tiriskan selama kurang lebih 24 jam,potong-potong adonan
       Tersrbut kurang lebih 5 mm,jemur sampai kering

cara membuat selai nanas




CARA PEMBUATAN SELAI NANAS
ALAT-ALAT
1.PISAU                        6.SPATULA
2.WADAH                      7.MISTING
3.BLENDER                   8. SENDOK
4.KOMPOR
5.wajan
BAHAN-BAHAN:
1.BUAH-BUAHAN
2.ROTI TAWAR
3. AIR AQUA
4.GULA PASIR







CARA PEMBUATAN
   Pertama-tama kupas kulit nanas,lalu potong lah kecil-kecil sekitar 1-2 cm. Setelah di potong cucilah dengan air hingga bersih. Lalu ditiriskan setelah ditiriskan masukan kedalam blender sehingga menjadi halus, sesudah di blender masukan kedalam  wajan lalu aduk hingga dak kental dan warnanya agak kemerah-merahan,lalu aduk-aduk sambil di aduk masukan gula pasir kedalam selai nanas itu,
Setelah matang angkat dan diam kan beberapa menit.        
images.jpegSetelah dingin masukan selai kedalam roti tawar dan selai pun siap di hidangkan.