18.03
“Aku tak mengerti mengapa aku tak dapat menjadi orang yang
berguna”. Keluh Dian
Anin hanya tersenyum seraya menatap Dian, dari tadi ia hanya menanggapi semua
keluhan dian dengan senyuman. Tak lebih. Hanya menjadi pendengar setia Dian
untuk semua yang ia katakan. Bukankah sahabat yang baik terkadang harus mau
mendengarkan? Namun bagi Anin ia bukan hanya mau mendengarkan Dian. Ia senang
dengan apa yang ia lakukan. Bila nanti ada ruang untuknya bicara barulah ia
bicara. Meski kadang apa yang dikatakannya jarang dihiraukan oleh Dian.
Didengar pun jarang. Tapi apa pentingnya itu semua. Bagi Anin, berada di
samping Dian pun cukuplah sudah.
Mengapa aku tak bisa menjadi orang yang berguna? Kata-kata Dian
terngiang di telinga Anin. Anin pikir selama ini Dian lebih dari hanya sekedar
berguna untuknya. Dian adalah pelengkap, Dian adalah tiang sandaran ketika ia
bersedih. Tak habis pikir, kenapa kata-kata itu terlontar dari mulut Dian
begitu saja. Dian tak menceritakan awal dari perkatannya itu. Namun tak semua
perkataan ada awalnya, pikir Anin. Bisa juga disimpulkan dari beberapa masalah.
Anin masih diam, masih menatap Dian yang berkata sepuasnya menumpahkan isi
hatinya.
“Aku juga ingin jadi orang yang dihormati dan dihargai…” Tutur Dian mengakhiri
semua keluhannya.
Hening sesaat. Anin tau Dian memberinya kesempatan untuk bicara. Tapi entah
kenapa kali ini ia tak tahu harus bicara apa. Apa ia mengeluarkan isi hatinya?
Atau menyampaikan gagasannya? Anin bingung, seakan ia tahu bahwa itu akan
menambah beban Dian saja. Anin tidak bisa diam saja, maka ia berdiri. Butuh
waktu beberapa saat sebelum ia berkata
“Andai setiap orang bisa mengerti perasaan orang lain yan” Ucap Anin. Matanya
lurus menghadap sungai di depannya.
Dian kini memandang Anin yang memunggunginya. Tak begitu paham dengan kata-kata
Anin. Maka ia dian, menunggu penjelasan.
“Jika setiap orang bisa memahami perasaan orang lain, tapi nyatanya itu tidak
terjadi yan. Aku belum tahu alasannya. Yang kutahu harus ada yang memahami,
maksudnya terkadang kita harus memahami orang lain dulu meski orang lain itu
belum juga bisa memahami kita yan”
“Butuh berapa lama? Jika aku melakukannya mungkin aku tidak akan bertahan lama”
Bantah Dian
“Memang lama sekali yan. Seolah waktu tiada berarti. Tapi kurasa, apakah orang
lain dapat memahami kita tanpa kita memahami orang lain itu? Tidak yan.”
“Anin, selama ini aku mencoba memahami orang-orang itu. Mereka saja yang tak
pernah melihatku.”
“Benakah yan?. Jika memang begitu halnya maka dirimu sudah berguna. Maka jangan
bertanya lagi Mengapa aku tak bisa menjadi orang yang berguna.”
Anin mengatakannya dengan berat hati. Sesungguhnya ia ingin membantah bahwa
selama ini Dian begitu egois dan tak pernah memahami orang lain. Tapi kenapa ia
selalu bilang bahwa ia telah memahami semua orang dan tak ada yang memahaminya.
Lalu apa arti dirinya bagi Dian? Dian juga tak pernah memahaminya, ia pikir.
Dian terdiam, mencerna perkataan sahabatnya. Ia sudah berguna. Selama ini ia
sudah menjadi orang yang berguna. Dian menanamkan kata-kata itu pada hatinya.
Mengenangnya.
“Seseorang tidak akan bisa bekerja sama jika mereka tak saling memahami bukan?
Itu bertentangan denganmu. Nyatanya kau menjadi ketua OSIS yang baik.” Tambah
Anin
Dian masih bisu. Bodohnya aku, pikirnya. Ternyata selama ini dirinyalah yang
tak pernah membuka mata, tak pernah menerima apa yang diberkan untuknya.
Padahal Tuhan memberi banyak hal. Seakan tiada artinya. Bodoh! Aku benar-benar
bodoh, kutuknya.
Anin berbalik dan tersenyum meski Dian tak memandangnya dan malah menundukkan kepala
seolah tengah mengutuki dirinya. Apa yang kukatakan tadi? Pikir Anin. Tiba-tiba
ia jadi khawatir akan melukai perasaan Dian. Anin memang jarang berfikir
panjang akan perkataannya dan ia tahu itu. Kini, memandang Dian terpuruk
menjadi hantaman di dadanya. Dengan tatapan khawatir bahkan sangat khawatir dia
menunduk menanyakan apakah sahabatnya itu baik-baik saja. Dian orang yang
sensitif, sedikit saja perkataan yang tak berkenan di hatinya mampu membebani
fikirannya.
Yang ditanya mengangkat kepala, tersenyum. Sebersit perasaan lega berhembus di
dada Anin walau tak mampu hapuskan kekhawatirannya. Dian berdiri. Tampak bahwa
ia lebih tinggi dari Anin. Itu wajar, karena ia laki-laki sedang Anin
perempuan. Sekali lagi Dian tersenyum. Senyum yang sulit ditafsirkan. Senyum
penahan sakit, senyum kepuasan, atau senyum dengan arti lain Anin tak tahu.
“Sudah sore, pulang yuk…” ajak Dian
Anin tersenyum. Ia tak tahu apakan Dian hanya bersandiwara atau tidak. Masalah
yang dikeluhkannya tiba-tiba seperti debu ditiup angin, terbang begitu saja.
Anin tak merisaukannya. Ia mengikuti Dian tepat di belakangnya. Berjalan
mengambil sepeda masing-masing dan bersepeda bersama menuju rumah mereka.
Sedang Dian seperti biasa tak terlalu memperdulikan Anin. Tapi kata-katanya
tadi memberinya semangat. Menghilangkan risau di hatinya. Sungguh beruntung dia
memiliki sahabat seperti Anin. Sepertinya, mulai saat ini Dian harus mencoba
memperhatikan apa yang Tuhan berikan padanya. Dalam hati ia ingin selalu
tersenyum seperti Anin.
Itulah kenangan terakhir Dian akan Anin. Sebelum dia pergi dan
belum berjumpa dengannya lagi hingga detik ini. Anin kini tak lagi menginjak
daratan yang sama dengan Dian. Mereka berdua terpisah oleh luasnya laut Jawa.
Seberapa luaskah? Tiap kali Dian memandang peta matanya tertuju pada Pulau Jawa
dan Pulau Kalimantan. Begitu kecil seolah bisa disambungkan. Tapi mengapa
ketika ia pergi berkunjung ke pantai bersama keluarganya dan memandangi lautan
seolah itu tak bertepi. Seolah Anin Hilang ditelan bumi. Hatinya kembali merasa
kehilangan. Tak berhenti berharap. Dian tak pernah berhenti berharap untuk bisa
bertemu dengan Anin lagi. Meski kemungkinan itu kecil.
“Tunggu saja Anin! Kelak ketika aku sudah dewasa akan kutemukan dirimu. Dunia
ini sempit Anin. Kita pasti bertemu lagi!” Janjinya
Dan janji itu sudah puluhan kali Dian ucapkan. Dian tak tahu apa Anin bisa
mendengarnya atau tidak. Anin memiliki hati dan perasaan yang lebih tajam
darinya dan ia harap di sana. Di suatu tepat di ujung laut yang kini tengah
dilihatnya itu, Anin mendengar semua janjinya.
Cerpen Karangan: Kartika Purwaningtyas
0 komentar:
Posting Komentar